Pada era otonomisasi saat ini, konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‘regionalisasi’ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi, keunggulan, peluang, dan karakter sosial budaya.
hidup itu harus dilalui dengan kebenaran, dan direalisasikan dengan tindakan, bukan dipenuhi dengan kegiatan pikiran konseptual yang kosong
Selasa, 24 Januari 2012
PENGUATAN TRANSPARANSI DAN PARTISIPASI DALAM PROSES PENGANGGARAN DAERAH
Sejumlah permasalahan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini, seolah mempertanyakan kembali akan peran dan keberadaan pemerintah di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Cita-cita yang diharapkan bisa membentuk dan memperlengkapi masyarakat dengan kemampuan dan kapasitas yang lebih baik belum menunjukkan hasil yang nyata. Penguatan peran dan fungsi masyarakat dalam pembangunan masih dipertanyakan. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah program-program pemerintah yang seyogianya diharapkan berhasil malah menunjukkan hasil yang sebaliknya. Salah satu contoh program tersebut adalah program BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang malahan mengakibatkan bertambahnya jumlah orang miskin dan pada akhirnya pemerintah sendiri mulai memikirkan ulang kelanjutan program tersebut dan bahkan berencana menggantinya dengan program lain. Mungkin dari hal tersebut bisa dimunculkan suatu pertanyaan “apakah cukup hanya menempatkan masyarakat sebagai penikmat atas apa yang dilakukan pemerintah tanpa melibatkan mereka sebagai penentu kebutuhan mereka sendiri?”. Dalam hal ini, pemantapan peran dan fungsi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu dilakukan dalam kaitannya dengan pelaksanaan konsep good governance. Pemantapan peran dan fungsi tersebut tidak cukup hanya dengan menjabarkannnya ke dalam bentuk konsep atau aturan normatif (regulasi) saja, sebab konsep dan regulasi tersebut hanya merupakan acuan dasar untuk mulai menerjemahkannya ke dalam bentuk yang nyata dan aplikatif, baik itu program-program kerja pemerintah, proyek pengentasan kemiskinan ataupun regulasi/deregulasi wewenang yang lain.
Sabtu, 10 Desember 2011
Pasrah
deru angin selaksa menusuk jiwa yang nelangsa
menebar pada tiap ranting pohon yang berjatuhan
pada kelopak bunga yang tengah mekar
seperti alam yang berkejaran
Aku Hanya Ingin Kau Tersenyum
Sudah bisa kuduga kau akan merangkul ku dengan mesra
Saat ribuan tanya menhujam tanpa koma pada derai cahaya cinta
Aku malu pada setiap kata yang kau ucap
Pada segurat nada yang kau petik di dingin malam
Inginku dekap kau lebih mesra
Tapi apakah hanya pelukan yang bisa membuat kau tersenyum,
kaupun meragukan semua yang kuberi
tak ada sesuatu yang kupunya
sel;ain kata dan ratap tanpa daya
kaupun tau aku bagaikan sebongkah bebatuan yang lapuk
terlempar dari dunia yang terpuruk
Yang Terpinggirkan
kau berjalan dalam dekapan keresahan
memikul beban pada setiap langkah yang kau jejaki
meminta dan terus meminta
Sabtu, 03 Desember 2011
Celoteh di Tepi Malam
Malam melaju mencumbui fajar dengan tenangnya, namun kantukku tidak juga datang, hanya risau yang bergerayang pada akhir perjumpaan malam ini. Seperti sebongkah batu masuk dalam kepalaku, begitu berat, pusing menggelinding kesana kemari hingga aku terkesiap. Aku beringsut bangun. Menyeka keringat yang meleler tumpah ruah ke muka kusamku.
Kamis, 01 Desember 2011
Musrenbang; Prioritas atau Formalitas ?
Oleh : Nurul Huda
Dalam siklus penyusunan APBD, awal tahun saat ini adalah waktu untuk melakukan proses awal perencanaan APBD, yakni Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) sampai Musrenbangkab (Musyawarah Rencana Pembangunan Kabupaten). Pada momen ini, masyarakat bersama-sama merumuskan kebutuhan pembangunan yang akan dijalankan di dusun atau desa bersangkutan sebelum kesepakatan itu dibawa ke tingkat kecamatan dan seterusnya Kabupaten.
Selasa, 16 Agustus 2011
Anggaran Publik, Untuk Siapa…?
Menurut kamus hukum dan glosarium otonomi daerah, anggaran didefinisikan sebagai perencanaan yang sistematis mengenai pendanaan suatu kegiatan dalam periode tertentu untuk waktu yang akan datang dan sebagai kebijakan umum untuk mengalokasikan sumber daya dengan tujuan mencapai hasil akhir yang diinginkan (Freidrich Naumann Stiftung, 2003).
MASYARAKAT SIPIL DAN DEMOKRATISASI LOKAL
Pasca reformasi ekspresi masyarakat sipil (civil society) dalam ranah demokrasi kembali hidup. Faultier (2001) dikutip Dzuriyatun Toyibah menjelaskan bahwa sejak reformasi 1998 tengah terjadi peningkatan fungsi masyarakat sipil. Fenomena peningkatan fungsi masyarakat sipil di tingkat lokal berkembang seiring waktu, yang kembali mewarnai alur demokrasi di Indonesia.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KEBIJAKAN ANGGARAN PUBLIK
Penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance) memang harus memposisikan warga negara sebagai aktor yang aktif dalam semua proses politik kepemerintahan, termasuk pembuatan kebijakan publik. Untuk itu, partisipasi politik warga harus diberi ruang yang luas, bukan hanya terbatas pada saat pemilu (partisipasi lima tahunan), akan tetapi juga dalam setiap perumusan, implementasi dan pertanggungjawaban kebijakan publik (partisipasi politik sehari-hari). Tentu saja prasyarat utamanya adalah tersedianya mekanisme dalam struktur formal kepemerintahan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.
Jumat, 15 April 2011
Bisikan Semesta
aneh.. setiap hal terjadi begitu cepatnya
seperti roda pedati yang berlari
mengejar waktu menuai hari
tapi selaksa wajah itu masih saja mengejarku
meminta didekap sang rembulan
memohon disekap sang malam
lirih jiwaku meronta
desau laraku melata
ingin ku menghilang dari pusaran cahaya
bersembunyi dibalik waktu yang kelabu
tapi apa dayaku
tanganku tak sanggup berpegangan lagi
kakiku tak kuat berlari lagi
aku tergeletak diantara kebimbangan
aku tersuruk pada dinding kekalahan
dia semakin mendekat pada rona wajahku
mencium dan melumuri wajahku dengan berjuta nestapa
ah dunia
sejengkal pun tak sanggup aku menghilang dari tatapanmu
yang dingin dan penuh misteri
ah semesta
inikah wajahmu yang anggun tapi penuh tanya
seperti pasir yang berbisik pada samudera
pada alam yang membuatmu menjadi pesona
seperti roda pedati yang berlari
mengejar waktu menuai hari
tapi selaksa wajah itu masih saja mengejarku
meminta didekap sang rembulan
memohon disekap sang malam
lirih jiwaku meronta
desau laraku melata
ingin ku menghilang dari pusaran cahaya
bersembunyi dibalik waktu yang kelabu
tapi apa dayaku
tanganku tak sanggup berpegangan lagi
kakiku tak kuat berlari lagi
aku tergeletak diantara kebimbangan
aku tersuruk pada dinding kekalahan
dia semakin mendekat pada rona wajahku
mencium dan melumuri wajahku dengan berjuta nestapa
ah dunia
sejengkal pun tak sanggup aku menghilang dari tatapanmu
yang dingin dan penuh misteri
ah semesta
inikah wajahmu yang anggun tapi penuh tanya
seperti pasir yang berbisik pada samudera
pada alam yang membuatmu menjadi pesona
Senin, 11 April 2011
Do`a Sang Pendosa
Saat jemari mengukir tasbih
Mengucap pujian bagi sang ilah
Menembus altar langit yang kelam
Sekelam jiwa hamba yang usang
Begitu jauh jarak antara kita
Ketika ku menjauh dari cintaMu
Lalu menjelma jadi goresan pasir yang mengering
Terbakar mentari di padang kering
Aku hanya pendosa yang berharap ampunan
Dalam kubangan prilaku yang penuh kehinaan
Menjumput selaksa cahaya dariMu
Untuk menerangi hatiku yang kian pekat nan sayu
Aku hanya pendosa yang tak kuasa menanggung cela
Memintal jarak dengan kepongahan logika
Memburu waktu dalam irama yang tak lagi merdu
Betapa banyak dosa yang terukir ditubuh ini
Betapa jejak kakiku mentasbihkan semua prilaku
Jahat, keji, hina, cela dan berjuta aib tertera
Seakan semua tak ada habisnya
Oh Tuhan..
Si pendosa ini mohon ampunan Mu
Betapa uluran tanganMu teramat penting bagiku
Melebihi semua uluran tangan di dunia ini
Oh Tuhan..
Dalam derai air mata ini
Ku bersimpuh pada lembaran ayat Mu
Pada selaras sajadah yang terbentang ini
Pada guratan zikir yang terukir disini di hati ini
Mahdah Rindu
Paras tak berbedak selalu dedakan nafas puja
Memandang anggunmu laksana mereguk seembun air
Di padang gersang yang melelahkan
memancarkan mata menakjubi cipta Sang Kuasa
Tak ‘kan mampu mutiara pun berkata
Atas kecantikanmu beraura di mata berkaca
Sungguhlah anugerah tiada tara, jelitamu.
Menjelajah jiwa dalam kembara hatiku
Sayu mata di pelataran senyumu
Menatap ayu kepadaku, yang melirik syahdu.
Seolah menggenggam gumpalan rindu
yang hadir di altar waktu
Di bola matamu yang bilau nan berpipi mengilau
Sekiranya cerahmu ini adalah samudera atlantik
Sudilah aku menjelajahi lautan yang berbahaya fanatik
Harum bunga melati yang ranum di dada
Mewangikan gelora mendegup jantung tak berjeda
Merayu puji untukmu, wahai purnama rembulan
Berbuah kasih, merelakan diri menjatuhkan raga
Di mulus tubuhmu yang mawar hingga bercumbu cinta
Meski waktu adalah jarak
lalu langit menjadi batas
Kurelakan kau tak menggugah disetiap mimpi menjarah
Desir-desir puisilah yang bisa kutenun
Menyelimuti lelapmu gantikan peluk selayaknya.
Menghangat renung bila terbangunkan mimpi, berharap ada.
Aku, adalah tenung terjal yang rapat
Tanpa lelah menanti kabarNya, tentang kita.
Disetiap kosong, sepi, sendiri, jua dahaga patri
Harap ini tak lebih hidangan di selasar senja
Untukmu dan aku, yang mematamorganakan asmara
Tatkala jiwa rapuh merindu pilu
Ketika batas-batas waktu membelah jarak antara kau dan aku
Jumat, 08 April 2011
Tuhan.. izinkan aku bercinta denganMu
Kata-kataku terus mengalir
dalam juntaian sepi sendiri makna
yang mabuk dalam kebisuan
hatiku menyetrika oral kecongkakan
gelombang membongkar jiwa
Laut meluapkan cinta
Awan rupa warna
Sambil menyambangi angin yang selalu menerpa, ketika dinding jiwaku melayang di hamparan dunia antah berantah, ada hal-hal yang tidak manusiawi, sangat kejam dan bengis.
Percintaan ini menawarkan gairah pikir dalam menerjemahkan sisi lain dari kenyataan yang ada. Bahwa pemikiran suatu hasrat dan cita-cita oleh setiap makhluk di alam perubahan. Di setiap jengkal lini atas nama kebenaran pasti penuh aral.
Sebagaimana hati yang dipatri menjadi simpul-simpul lahiriah. Intuisi itu lah yang menghiasinya menyapa makhluk-makhluk lainnya. Merangkum sembah dalam pusara pemaknaan.
Selanjutnya oleh keyakinan yang didasari puncak kerinduan, membongkar otak kemunafikan. Aku menumbuhkan nalar-nalar keseimbangan menjawab gelombang lautan penghambaan .
Kehidupan pun menjelmakan rindu kepada Mu. Menyambangi lima kali setiap hari untuk wujudkan rasa Cinta padaMu. Ketika semua menjadi kodrat dan tanggung jawab atas hal yang perbuat, selanjutnya adalah pembuktikan cinta itu sendiri.
Yang menyalakan di jiwa. Benar adanya sesuai hakiki hidup yang diemban sebagai pilihan,. Sebab itu setiap bentuk cinta untuk membangun martabat yang tinggi.
Sejurut itu pula, menyingkap pengertian kalbuku menuju ke gerbang pintu perjumbuhan horisontal terjaga. Demikian perjumbuhan vertikalku, seiring dengan jalannya roda syahwat ukhrowi sebagai penyeimbang. Selain aku terlalu lama menelan lahap perjalanan berliku, syahwat duniawi sebagai pembungkus rasa kaldu di meja makan.
Puisiku berlayar menapaki rahasia
menyalib matiku di pintu penyesalan
hati ini tetap berjaga agar lena tak tergoda kemegahan dunia
Hidup apa kata angin
Yang menghirup tantangan
Merombak total kebiasaan
Tuhan…Aku ingin terus bercinta dengan Mu....
Karena hidup telah bersemayam dalam lagu kerinduan
Dalam semesta cahaya keagunganMu
Rangkasbitung, 08 - 04 - `11
Kamis, 07 April 2011
Tepian Cahaya
Fatamorgana telah menyisipkan racun manis dalam selubung oase.
Dalam hembusan angin yang berpesta sendiri
sembari menelisik cakrawala yang mengitari semua
dalam lantunan jantera alam raya
Sambil lalu lalang,
Kan ku jumlah bagian yang mentasbihkan jarak antara kita
Mungkin dengan acuh
kau akan berbangga menyimpan semua ragu.
Akupun bergentayangan mengikutimu
dalam beberapa kecup yang kau campur ke udara kelam
dan aku sendiri mengerjai senyawa.
Aku tertawa pada baris-baris udara
tatkala engkaupun bergurau
tentang mendung yang mendingin di pojok sunyi.
Dan ku yakini bahwa mungkin engkaulah genderang kasih
yang melantunkanku di saat aku membunyikan getaran dunia.
Menggertak angin menjadi langkah absurd
yang kadang harus ku lumuri pada ketelanjangan ini.
Sudahkah engkau bertanya pada subuh
yang mungkin menaiki kencana dalam segala rupa?
Atau mungkin engkau menunggui udara tengah hari
yang menyawangmu pada kosong di sela guratan mimpi?
Ketika dengan terpaksa aku menyahut dahaga
yang terkatung katung di sepanjang titian sengat,
kemana lagi kau kan menuntunku menyusuri tepian cahaya semesta?
Aku sudah berkawan lama dengan letih
dan dia menjadi teramat sunyi
pada kemegahan udara yang ku bawa sepanjang tatih.
Cukupkah dengan seringai
engkau merepitisi semua guna yang hendak ku pagar padamu
biar semua menjadi stagnan.
Dan kita bagai sepasang kupu-kupu
yang mengelupas sang waktu
dalam temaram malam.yang kelabu
Rangkasbitung, 7 - 4 - 11
Rabu, 06 April 2011
Pesan Rembulan ( untuk EYS )
Untukmu yang selalu tersenyum pada rembulan
Janganlah kaulelah arungi lautan hidup
Menahan setiap sesak yang datang menyambut
Di sepanjang jalan yang terus berserakan
Tetap melangkah walau badai menghadang
Karena kekuatan itu pasti datang
Tertawalah sebelum ditertawakan
Sebab ini adalah kenyataan
Yang harus kau lawan dengan senyuman
Dan dengan segenap kesabaran
Untukmu yang namanya tertera pada dinding cahaya
Langkahkan kakimu walau tapak penuh kerikil tajam
Seperti malam yang menampakan rona mendalam
Tetap bergerak selami kancah keadaan
Bentangkan layar seluas keinginan
Berharap angin nanti akan berhembus
Membawamu ke aras tujuan
Tegarlah seperti karang
Yang tetap bertahan di derasnya gelombang
Luaskan pikiran bagai samudera
Yang menerkam segala alpa
Biar ombak kecil membelai pantai jiwamu
Jadikan berarti seindah pasir putihnya
Ingatlah…
Kita tak akan mengerti tentang sebuah kemudahan
Tanpa pernah merasakan kesulitan
Karena hidup itu adalah serpihan kekuatan
Yang akan menjadikan kita seperti temaram rembulan
Ingatlah…
Masa depan telah menunggu dengan bunga rampai
Yang harum di atas kasur-kasur.
Bersiap-siap mendekap dengan tangan panjang
Yang terkembang dan bahu lebar yang empuk membentang
Taman Cahaya, 6 – 4 - `11
Dinding Cahaya
Kata-kata itu terus mengalir, menciptakan kesadaran hidupku. Rohaniku mengembang dalam perbedaan signifikan di antara keumuman. Bagai menemukan dunia lain dari dunia universalitas yang ada ditemukan berdasar ijtihad penerawangan atas pilihan. Pertanyaan pun ditemukan jawaban nalar kepada sang waktu, dan diolah oleh ruang ketekunan disiplin berfikir yang unik milik pribadi.
Kata-kata itu sesuatu yang tidak pernah alpa mengarungi pelayaran jauh menempuh tuju di dalam cita mengembiskan cinta di antara pembelaan kepada yang tergerus. Juntaian kata setiap hari berseliweran bersebrang-seberangan di atas ubun-ubun. Berarak-arakan kepejalan seperti denyut tak berhenti melakukan thawaf.
Dinding-dinding kokoh di luar ruh dan rasa dahaga di dalam raga menekurkan sukma yang teramat nista. Sedangkan kisah silam dan kisah realitas bercampur aduk meramu akan datang. Seiring menggali kesadaran realitas nyata fiksi dan hingga menemukan ruang-ruang sublim terutama di dalam dunia keriuhan.
Kenyataan tidak terbantahkan di dalam ranah bawah sadarku terus bersenggama amat dahsyat. Tak bisa dielak kejumudan di dalam kejujuran lantas merangkum kemasgulan keyakinan yang berserak di diri yang berganda pada keelokan jiwa-jiwa.
Selanjutnya oleh keyakinan yang didasari puncak kesunyian, membongkar otak kepedihan. lalu menumbuhkan nalar-nalar keseimbangan dan menyapa gelombang lautan. Maka lahirlah kata yang aku sebut kata itu bernama cahaya.
Cahaya yang akan tetap ku pancarkan, walau satu kata, walau pahit rasa getir, tetap disampaikan dengan semua perintangan Kehidupan pun menjelmakan rindu kepada sesama.. Ketika semua menjadi kodrat dan tanggung jawab atas hal yang ditulis, selanjutnya adalah pembuktikan kata itu sendiri.
Rangkasbitung, Dini Hari, 6 - 4 - `11
Kata-kata itu sesuatu yang tidak pernah alpa mengarungi pelayaran jauh menempuh tuju di dalam cita mengembiskan cinta di antara pembelaan kepada yang tergerus. Juntaian kata setiap hari berseliweran bersebrang-seberangan di atas ubun-ubun. Berarak-arakan kepejalan seperti denyut tak berhenti melakukan thawaf.
Dinding-dinding kokoh di luar ruh dan rasa dahaga di dalam raga menekurkan sukma yang teramat nista. Sedangkan kisah silam dan kisah realitas bercampur aduk meramu akan datang. Seiring menggali kesadaran realitas nyata fiksi dan hingga menemukan ruang-ruang sublim terutama di dalam dunia keriuhan.
Kenyataan tidak terbantahkan di dalam ranah bawah sadarku terus bersenggama amat dahsyat. Tak bisa dielak kejumudan di dalam kejujuran lantas merangkum kemasgulan keyakinan yang berserak di diri yang berganda pada keelokan jiwa-jiwa.
Selanjutnya oleh keyakinan yang didasari puncak kesunyian, membongkar otak kepedihan. lalu menumbuhkan nalar-nalar keseimbangan dan menyapa gelombang lautan. Maka lahirlah kata yang aku sebut kata itu bernama cahaya.
Cahaya yang akan tetap ku pancarkan, walau satu kata, walau pahit rasa getir, tetap disampaikan dengan semua perintangan Kehidupan pun menjelmakan rindu kepada sesama.. Ketika semua menjadi kodrat dan tanggung jawab atas hal yang ditulis, selanjutnya adalah pembuktikan kata itu sendiri.
Rangkasbitung, Dini Hari, 6 - 4 - `11
Selasa, 05 April 2011
Mengubur Dogmatisme
“Agama yang kini menjadi nomenklatur kehidupan telah berubah tabiatnya menjadi beribu-ribu fragmentasi. Lihatlah bagaimana di tangan politikus, agama menjadi semacam alat pembius bagi rakyat dan bertengger di kursi kekuasaan. Berbagai partai menjadikan agama sebagai ideologi, agar dagangan partai itu laku di pasaran. Ingat pula bagaimana kekerasan tercipta di balik nama agama. Teror, intimidasi dan aneka fitnah dilancarkan dengan dalih penegakan agama. Ribuan orang merenggang nyawa, jutaan manusia kehilangan harta benda, mereka jadi korban kekerasan atas nama agama.
Lalu dimanakah mereka, para intelektual, cendekiawan, pendidik dan para pemimpin agama, sehingga hal demikian terus terjadi di daratan bumi ini?
Aku rasa mungkin mereka sedang asik berebut upeti, bertafakur untuk mencari jalan popularisasi diri, mendirikan partai untuk kepentingan pribadi, dan mungkin juga berasyik mansyuk dengan menumpuk kekayaan sendiri.
Lantas apa yang harus kita lakukan.?
Bagi saya, dalam paradigma dunia saat ini, tak ada jalan lain yang harus kita lakukan adalah dengan merombak pola pikir kita yang saat ini terlampau dogmatis, menjadi pola pikir yang dinamis dan konstruktif, menghilangkan otoritas satu golongan tertentu, agar tidak terjadi manipulasi kekuasan. Dan yang paling penting lagi adalah mengubur sedalam-dalamnya sikap ketidakmandirian kita dan kelatahan sikap kita yang selama ini menjangkiti jiwa dan gaya hidup kita, agar kita tak menjadi orang-orang tolol yang suka mengekor.”
Lalu dimanakah mereka, para intelektual, cendekiawan, pendidik dan para pemimpin agama, sehingga hal demikian terus terjadi di daratan bumi ini?
Aku rasa mungkin mereka sedang asik berebut upeti, bertafakur untuk mencari jalan popularisasi diri, mendirikan partai untuk kepentingan pribadi, dan mungkin juga berasyik mansyuk dengan menumpuk kekayaan sendiri.
Lantas apa yang harus kita lakukan.?
Bagi saya, dalam paradigma dunia saat ini, tak ada jalan lain yang harus kita lakukan adalah dengan merombak pola pikir kita yang saat ini terlampau dogmatis, menjadi pola pikir yang dinamis dan konstruktif, menghilangkan otoritas satu golongan tertentu, agar tidak terjadi manipulasi kekuasan. Dan yang paling penting lagi adalah mengubur sedalam-dalamnya sikap ketidakmandirian kita dan kelatahan sikap kita yang selama ini menjangkiti jiwa dan gaya hidup kita, agar kita tak menjadi orang-orang tolol yang suka mengekor.”
Minggu, 03 April 2011
Bidadari Penebar Rindu
Desahan nafasmu membuat hatiku berbunga-bunga.
Kau senentiasa diam seribu bahasa,
amat sedikit bicara,
membuat pandang matamu semakin menenung.
Kau seakan dekat dan duduk di sisiku,
membuat purnama tampak tak terlalu terang,
dan aku semakin suka suasana remang.
Bagi Zulaikha, Yusuf Sang Pangeran
Bagi `Ali, Fatimah lah Sang Ratu
Bagi Rumi, Syamsuddin lah Sang Maharaja
Bagi Muhyiddin Ibnu Arabi, Fathimah Cordoba lah Sang Ayu
Tapi bagiku kaulah bidadari penebar rindu
Inilah diriku...
Yang tak punya apa pun kecuali rasa mendamba
Yang tak bisa apa pun kecuali meminta
Yang miskin dari apa pun kecuali harapan
Yang tak bersuara apapun kecuali ratapan
Duhai jelitaku,
kau lah satu-satunya keceriaan yang berlimpah,
tak kuasa aku menatap wajahmu yang maha jelita ke segala arah,
juga bibirmu yang demikian indah memerah,
tak kuasa aku mendengar cengkerama diammu
yang membuat jiwaku melayang dalam alam
misteri yang demikian dalam.
Rangkasbitung, Januari `10
Kau senentiasa diam seribu bahasa,
amat sedikit bicara,
membuat pandang matamu semakin menenung.
Kau seakan dekat dan duduk di sisiku,
membuat purnama tampak tak terlalu terang,
dan aku semakin suka suasana remang.
Bagi Zulaikha, Yusuf Sang Pangeran
Bagi `Ali, Fatimah lah Sang Ratu
Bagi Rumi, Syamsuddin lah Sang Maharaja
Bagi Muhyiddin Ibnu Arabi, Fathimah Cordoba lah Sang Ayu
Tapi bagiku kaulah bidadari penebar rindu
Inilah diriku...
Yang tak punya apa pun kecuali rasa mendamba
Yang tak bisa apa pun kecuali meminta
Yang miskin dari apa pun kecuali harapan
Yang tak bersuara apapun kecuali ratapan
Duhai jelitaku,
kau lah satu-satunya keceriaan yang berlimpah,
tak kuasa aku menatap wajahmu yang maha jelita ke segala arah,
juga bibirmu yang demikian indah memerah,
tak kuasa aku mendengar cengkerama diammu
yang membuat jiwaku melayang dalam alam
misteri yang demikian dalam.
Rangkasbitung, Januari `10
Bayangmu diantara Rinduku
Mataku terpejam tak mau
Anganku berontak tak lesu
Merekat pada ruang kamar
Berkutat pada riuh gaduh angin malam
Meronta lagi getar ini
Mengais lagi bahtera rindu
Lengkaplah sudah sepi ini menguruk sendiriku
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi api
Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam
Terbuai wajahmu yang menyusup bertubi tubi
Membawa sebaris kata bahagia
Menenggelamkan nurani di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rinduku yang kusam...
Tentang cintaku yang terbuang...
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah, gundah gelisah dan lara pesakitan
Masihkah ada sedikit senyum darimu di batas penantianku?
Masihkah ada kehangatan seperti yang kurasakan dulu?
Ku semakin terbata-bata dalam kata-kata...untuk memujimu, mengharapmu, mencintaimu dan
menantimu...
Untukmu kuasah luka
Padamu kuasuh bahagia
Padamu cinta ingin kuakhirkan
Dan bila cinta mempertemukan ujung jalan ini
Janganlah sepi yang hadir...
Janganlah semu yang membeku...
Karena, ku kan s'lalu berjalan menujumu...
Hanya padamu...
Anganku berontak tak lesu
Merekat pada ruang kamar
Berkutat pada riuh gaduh angin malam
Meronta lagi getar ini
Mengais lagi bahtera rindu
Lengkaplah sudah sepi ini menguruk sendiriku
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi api
Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam
Terbuai wajahmu yang menyusup bertubi tubi
Membawa sebaris kata bahagia
Menenggelamkan nurani di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rinduku yang kusam...
Tentang cintaku yang terbuang...
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah, gundah gelisah dan lara pesakitan
Masihkah ada sedikit senyum darimu di batas penantianku?
Masihkah ada kehangatan seperti yang kurasakan dulu?
Ku semakin terbata-bata dalam kata-kata...untuk memujimu, mengharapmu, mencintaimu dan
menantimu...
Untukmu kuasah luka
Padamu kuasuh bahagia
Padamu cinta ingin kuakhirkan
Dan bila cinta mempertemukan ujung jalan ini
Janganlah sepi yang hadir...
Janganlah semu yang membeku...
Karena, ku kan s'lalu berjalan menujumu...
Hanya padamu...
Langganan:
Postingan (Atom)






