Jumat, 07 Januari 2011

Memoar Seorang Pejuang

By : Nurul Huda


Pada saat ini aku masih berjalan dengan idealismeku sendiri, aku masih terus bertahan walau kerikil-kerikil tajam datang menghujam, tapi bagiku itu hanyalah sebuah tertawaan kecil yang dengan sebuah senyuman saja bisa lenyap hingga keakar-akarnya. Aku masih percaya dengan kekuatan yang aku miliki saat ini, bahwa semua hal adalah makna dalam perjalanan hidup yang aku lalui, semua akan menjadi kekuatan dalam setiap masalah yang aku hadapi. Orang boleh mencemooh aku dengan berjuta cemoohan, orang boleh menghina aku dengan ribuan hinaan, tapi aku kan tetap jalani kehidupan yang aku yakini ini sampai kapan pun.

Walau kini kusadari betapa beratnya menjalani hidup dengan zaman yang serba kalap dan penuh sesak. Kadang sekecil apapun permasalahan akan menjadi seonggokan masalah besar jika kita tak mampu bersikap bijak pada kenyataan di sekeliling kita. Hidup di zaman sekarang memang membutuhkan kekuatan yang cukup besar untuk menghadapinya, aku bukan saja dihadapkan pada ketidakjelasan akan sebuah masa depan, namun juga sebuah jalan terjal yang akan aku lalui telah menjadi medan peperangan antara nurani dan naluri, antara jiwa dan logika, antara keinginan dan harapan, antara cinta den kebenciaan, antara kejujuran dan kebohongan, antara permusuhan dan persahabatan, antara kehidupan dan kematiaan, serta antara cita-cita dan keputusasaan.

Aku mulai menganyam kembali lembar demi lembar jejak yang kulalui, langkah yang telah terkayuh jutaan waktu, akan kujadikan bahan bermeditasi diri dalam pusara perubahan jiwa yang semakin kalang kalut ini. Aku pahami setiap kata yang terucap masih sering menyimpan tanda tanya yang suram, sebuah misteri yang sekan mengejarku dalam ketidakpastian. Setiap tingkahku yang kadang melukai orang lain, bahkan menjatuhkan nuraniku, semakin jelas menjadi letupan-letupan yang menggetarkan jiwa kejantananku.

Disisa waktuku yang hampir menuju kepunahan, aku masih sempat mengingat masa-masa kejayaan, masa dimana aku masih terus menghadirkan keberaniaan dalam nada-nada perjuangan, mempertahankan idealisme kemudaanku yang kokoh dan penuh harapan, menentang setiap ocehan orang-orang yang selalu menginginkan diriku dan keteguhan pendirianku runtuh berserakan, orang-orang yang setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap langkahnya seakan menyusun rencana jahat untuk mengusirku jauh dari kehidupanku sebagai seorang pejuang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial di sekelilingku.

Hari demi hari terus berlari menuju puncak hari yang entah kapan akan terganti, alam semakin sangar dengan rentetan zaman yang makin menampakan kekejamannya pada orang-orang lemah, orang-orang yang ada di sekeliling ku yang hidup dibawah jeruji kemiskinan, di bawah garis kebodohan, dan bergelut dengan segunung ketertinggalan. Aku masih berdiri dengan air mata menetes di sela-sela sudut kegamangan, kesedihan yang nampak menyapu segala bentuk kesombongan. Di depanku tergeletak nurani yang seakan lenyap oleh ambisi, bongkahan logika lunglai terkatung-katung pada kuasa egoisme, dan nilai-nilai kemanuisaan luluh lantak oleh cakaran kerakusan kapitalisme.

Namun aku terus berharap pada keberanianku sendiri, pada keberaniaan orang-orang yang ditindas haknya, orang-orang yang dirampas kebebasannya, dan orang-orang yang masih berani berkata tidak pada kekuasaan yang menindas, otoriter dan korup. Aku yakin akan perjuangan yang penuh kesungguhan, dan aku masih akan terus bertahan, walau segala penghalang di depanku selalu datang di sela-sela waktu, mengancamku dengan segala keberingasannya,

Aku adalah seorang pejuang yang dilahirkan dari ribuan tangis orang-orang tertindas, jutaan air mata orang-orang yang dirampas hak kemerdekaannya, yang ditipu para penguasa korup. Senjataku hanya sebilah idealisme, seonggok impian akan kedamaian dan keadilan, dan sekeping harapan akan kemerdekaan bagi orang-orang disekelilingku yang setiap hari manjerit di jeruji kemiskinan dan kebodohan.
Kata-kataku terus mengalir, menciptakan kesadaran hidupku. Jiwa mengembang dalam perbedaan signifikan di antara keumuman. Bagai menemukan dunia lain dari dunia universalitas yang ditemukan berdasar ijtihad penerawangan atas pilihan. Perjuangan itu sesuatu yang tidak pernah alpa mengarungi pelayaran jauh menempuh tujuan, di dalam cita dan di antara pembelaan kepada yang tersingkirkan.

Dinding-dinding kokoh di luar ruh dan rasa dahaga di dalam raga menjadi saksi atas sukma yang bergetar. Sedangkan kisah silam dan kisah realitas bercampur aduk meramu akan datang. Seiring menggali kesadaran realitas nyata fiksi, hingga menemukan ruang-ruang sublim di dalam dunia keriuhan.

Dunia ini telah mengkontruksi sendiri terhadap pencitraan diri terang – benderang sekaligus mendapati ruang dahaga di alam raya secara alamiah. Rupa warna menyantap keyakinan sangat sempurna di ruas-ruas wacana berkehidupan dan menyebar diantara genderang kesombongan.

Pekikan kata-kata yang terlontar pada garis kesadaran atas implementasi seseorang yang mendiami diri di dalam keyakinannya. Pada cermin dunia tanpa makna, maka kejujuran merupakan logam mulia di ranah dunia yang sarat kemunafikan.

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu dibelah oleh dua unsur ingin, sebagaimana prosedur alam di panggung-panggung kehidupan. Namun kita memilih yang mana kenyataan dan kemampuan harus seimbang, apalagi ketika jalan hidup harus terpenuhi sebagai lahir bagi tanggung jawab perut-perut di belakangnya.

Hidup bagai trompah meraup hikmah di jalan-jalan ketimpangan, berhadap-hadapan dengan hedonisme, serta merta kapitalisme mengepung kenyataan. Tantangan demi tantangan tidak mudah dilewati badan, apa yang seharusnya menyuburkan pada daya menciptakan mukjizat, pada sengkarut hidup yang kian meredup.

Inilah ketika seseorang berada dikeharibaannya melawan magma rupa dunia. Hanyalah kepada keimanan seseorang yang tangguh akan kesiapan mental, kalau pun lulus di ranah universitas kehidupan dengan sendirinya akan terbebas dari tekanan. Sambil menyambangi angin yang selalu menerpa, di hamparan dunia antah brantah, Bahwa perjuangan adalah hasrat dan cita-cita di alam perubahan dan di setiap jengkal lini atas nama kebenaran pasti penuh gerai penghalang.

Selanjutnya oleh keyakinan yang didasari puncak kesedihan, membongkar otak kepedihan. menumbuhkan nalar-nalar keseimbangan menjawab gelombang lautan. Kehidupan pun menjelmakan rindu kepada sesama. Ketika semua menjadi kodrat dan tanggung jawab atas hal yang ditulis, selanjutnya adalah pembuktikan kata itu sendiri, yang menyalakan di jiwa ku yang bukan siapa-siapa. dan hidup yang diemban sebagai pilihan, sebab itu setiap bentuk ijtihad makhluk ingin membangun martabat yang tinggi, menjadi manusia sejati yang punya arti.

Selanjutnya biar goda datang bertubi, pilihan menyedihkan sebagai irama yang tetap menjadi daya sengat di ranah persada. Jiwaku berlayar menapaki rahasia, Di pintu pertapaanku yang tetap berjaga agar dahaga tak tergoda. Hidup apa kata angin, sambil menghirup tantangan dan merombak total kebiasaan. Yang tak pantas segera kusingkirkan, yang baik segera kusimpan dalam rekam jejakku di peradaban dan di dasar perjuangan.

Kepada siapa kalau bukan kepada diriku sendiri, melawan adalah kewajiban. Sebagai anak manusia yang punya tugas menjadi manusia. Saat dimana wajah zaman yang semakin muram akibat peradaban tidak imbang. Bercabang tanduk-tanduk di kepala menanduk para pendusta yang biadab terhadap kemiskinan bangsa.

Di hatiku, Hidup telah bersemayam dalam lagu Perjuangan.
Bagiku melawan adalah kewajiban…
Dan aku akan tetap melawan dengan segala kemampuan dan keberaniaanku sendiri...

Rangkasbitung, 2-3-10`10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tanggapan